Oleh : Ust. H. Fakhrurrazi M. Yunus, MA
"Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh. Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya." (QS. Al-A’raaf: 199-201)
Secara alami, ketika seseorang ditimpa sesuatu yang buruk terhadap dirinya akibat tindakan orang lain, akan selalu memberikan reaksi negative. Dalam hatinya akan muncul perasaan dendam, dan ingin membalas terhadap apa yang menimpanya, bahkan dengan tindakan yang lebih berat dan buruk dariapa apa yang telah menimpanya. Sudah cukup banyak peristiwa-peristiwa yang dapat kita saksikan ditengah masyarakat kita. Dimana aksi-aksi balas demam selalu menjadi tontonan kita. Seolah balas demdam adalah satu-satunya cara untuk memuaskan hati dan menentramkan jiwa dari segala kedhaliman dan keburukan yang telah menimpanya. Yang menyesakkan hati adalah ketika ada anggapan dikalangan sebagian masyarakat kita bahwa jika seorang yang tidak melakukan balas demdam terhadap perlakuan buruk yang menimpanya ataupun keluarganya dianggap sebagai pengecut dan hilang harga dirinya.







