*Penulis adalah kandidat doktor di Universitas Sidi Muhammad bin Abdillah, Fes, Maroko.

“The empires of the future will be the empires of the mind," demikian prediksi Winston Churchill, PM Inggris pada Era Perang Dunia Kedua. Ketika dunia memasuki era ledakan informasi seperti saat ini, di mana dunia telekomunikasi dan informasi mencapai perkembangan yang luar biasa cepat, keunggulan pemikiran menjadi sangat vital. Pada stadium tertentu, menjadi lebih vital dari keunggulan materi.
Howard Gardner, profesor dari Universitas Harvard, menyodorkan sebuah perspektif menarik tentang peranan akal di masa depan. Dalam buku terbarunya, Five Minds for the Future, beliau memprediksikan bahwa lima jenis akal akan menjadi sangat diminati dan sangat berpengaruh di masa depan, paling tidak dalam 20 tahun ke depan, yaitu: disciplined mind, synthesizing mind, creating mind, respectful mind and ethical mind.
Sebuah kenyataan besar menghantam kesadaran saya. Sejak memasuki milenium ketiga awal abad ini, saya sangat concern dengan studi keislaman dengan semangat perspektif masa depan. Hal yang tidak menggembirakan yang tampaknya harus saya sadari adalah bahwa hampir seluruh tulisan dan studi keislaman selalu mengarahkan teropong ke belakang, melihat masa lalu… Tidak salah sama sekali. Bahkan hukumnya fardhu. Menggali khazanah kebudayaan dan peradaban Islam masa lalu adalah modal untuk membangun masa depan. Tetapi persoalannya adalah modal khazanah keislaman itu ternyata belum menemukan proyeksi masa depan yang jelas.



ASPIRASI 