PPI Maroko

 
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home ASPIRASI Buletin Jum'at

Sayyidul Ayyaam

BULAN RAMADHAN [Bulan Amal Ibadah]

Sebentar lagi kita akan memasuki bulan Ramadhan 1431 H. Bulan yang agung yang akan datang dengan membawa beragam hikmah dan keistimewaan. Pada setiap Ramadhan datang, kaum muslimin memuliakannya dengan meningkatkan amal ibadah kepada Allah swt., seperti: berpuasa, qiyamul lail, tadarus Al-Qur’an, infaq, sedekah dan sebagainya. Hal itu dilakukan semata-mata mengharapkan keridhaan Allah swt..

Rasulullah saw.. bersabda: "Wahai umat manusia. Bulan yang mulia (Ramadhan) telah mengunjungi kamu, bulan penuh keberkahan. Suatu bulan yang di dalamnya terdapat suatu malam yang lebih berharga dari seribu bulan. Allah menjadikan puasanya suatu kewajiban (fardhu), sedangkan mengisi malam-malamnya dengan kebajikan-kebajikan dan pengabdian merupakan tathawwu’ (amal-amal sunat), yang amat bernilai." (H.R. Ibnu Khuzaimah).

Bulan Amal Ibadah

Ramadhan merupakan suatu kesempatan bagi kaum muslimin untuk berlomba-lomba dalam menggapai amal ibadah. Ramadhan sebagai wadah penempa jasmani dan rohani, untuk menjadikan hidup lebih bermakna dengan memperbanyak amal shalih sepanjang pagi, siang dan malam.

Read more...
 

KEUTAMAAN DAN AMALAN BULAN SYA’BAN

Suatu waktu sahabat Usamah bin Zaid bertanya kepada Rasulullah saw.: “Wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihatmu memperbanyak berpuasa  (selain Ramadhan) kecuali pada bulan Sya'ban? Rasulullah saw. menjawab: "Itu bulan dimana manusia banyak melupakannya, yaitu antara Rajab dan Ramadhan. Di bulan itu segala perbuatan dan amal baik diangkat ke Tuhan semesta alam, maka aku ingin ketika amalku diangkat, aku dalam keadaan puasa". (HR. Abu Dawud dan Nasa'i).

Dalam Riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Sayyidatina Aisyah r.a. berkata: “Aku belum pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menyempurnakan shaum selama satu bulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan, dan aku belum pernah melihat beliau memperbanyak shaum dalam satu bulan kecuali pada bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari No. 1833, Muslim No. 1956).

Dilain tempat beliau (sayyidatina Aisyah r.a.) juga berkata: "Suatu malam Rasulullah saw. shalat, kemudian beliau bersujud panjang sehingga aku menyangka bahwa Rasulullah saw. telah diambil. Karena curiga maka aku gerakkan telunjuk beliau dan ternyata masih bergerak. Setelah Rasulullah saw. selesai shalat beliau berkata: "Hai Aisyah engkau tidak dapat bagian?". Lalu aku menjawab: "Tidak ya Rasulullah, aku hanya berfikiran yang tidak-tidak (menyangka Rasulullah saw. telah tiada) karena engkau bersujud begitu lama". Lalu beliau bertanya: "Tahukah engkau, malam apa sekarang ini". "Rasulullah yang lebih tahu", jawabku. Beliau pun berkata: "Malam ini adalah malam nisfu Sya'ban, Allah mengawasi hamba-Nya pada malam ini, maka Ia memaafkan mereka yang meminta ampunan, memberi kasih sayang mereka yang meminta kasih sayang dan menyingkirkan orang-orang yang dengki." (H.R. Baihaqi dari Ala’ bin Harits).
Read more...
 

Menjadikan Do’a Sebagai Pilar Kehidupan

Allah swt. mengutus para rasul untuk menjelaskan serta mengarahkan sendi-sendi kehidupan manusia baik itu iman, ibadah, sosial kemasyarakatan dll. Meski risalah yang mereka bawa menuai badai kritis di kalangan umatnya sendiri. Dalam hal berdoa, mereka ajarkan umatnya agar tidak minta sesuatu kepada benda mati dengan diusung sebuah logika, ''bagaimana mungkin benda mati yang tak mampu berbicara dan mendengar mengabulkan permintaan seseorang?''.
 
Allah swt. berfirman: ''Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.” (QS. Al Hajj: 73).

Doa merupakan wujud ketergantungan, pengharapan dan permohonan seorang hamba kepada Sang Pencipta. Dan pada hakikatnya doa adalah tumpuan hidup sehari-hari. Tidak sedikit yang menjadikan doa itu sebagai gantungan dalam hidupnya. Hal ini dapat kita lihat dan kita rasakan di saat seseorang atau sekelompok orang akan memulai suatu usaha atau pekerjaan, hati mereka secara spontan berbisik, semoga Tuhan memberikan kemudahan serta keberhasilan sebagaimana yang mereka harapkan.
Read more...
 

Pengaruh Iman Kepada Allah

Iman kepada Allah Ta’ala adalah pedoman dari kehidupan rohaniah, sumber ketenangan dan ketenteraman diri serta langkah awal dari semua bentuk kebahagiaan. Iman merupakan sebuah keyakinan yang muncul dari pemahaman diri tentang alam beserta isinya yang berkaitan dengan kebesaran Sang Khaliq.

Tanda-tanda keimanan dalam diri seseorang dapat  terlihat dari amal perbuatan yang dikerjakan, karena kepribadian diri seseorang  merupakan pancaran dari iman yang ada di dalam diri seseorang.

Seseorang dikatakan beriman dengan sebenar-benarnya iman adalah jika ia berbuat kebajikan dan berada di jalan yang lurus serta meninggalkan kemungkaran karena takut mendapat ‘adzab yang pedih dari Allah Swt.  Hal ini sering kita dengar dengan istilah iman hakiki. Di dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa setiap kali terdapat kata iman, pasti tidak akan terlepas dari kata amal shalih. Hal ini menunjukan bahwa Allah Ta’ala mewajibkan kepada siapa saja yang beriman agar senantiasa mengikat dirinya dengan amal kebajikan. Karena orang yang beriman kepada Allah lalu diikuti dengan amal shalih, ia akan mendapatkan tempat yang paling mulia di sisi Allah di akhirat kelak. Allah berfirman dalam Al-Qur’an: “Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih, bahwa untuk mereka (disediakan) surga-surga”. (QS.  Al-Baqarah: 25)

Dalam ayat lain dikatakan: “Sungguh, mereka yang beriman dan mengerjakan kebajikan , kami benar-benar tidak akan menyia-nyiakan  pahala orang yang mengerjakan perbuatan baik itu”. (QS. Al-Kahfi: 30)
Read more...
 

Rasa Takut Yang Positif

Allah swt. memberikan manusia potensi positif dan negatif. Berani dan takut misalnya. Tapi tidak semua keberanian itu positif dan tidak semua ketakutan itu negatif. Semuanya tergantung pada diri masing-masing. Mampukah kita mengubah ketakutan menjadi keberanian yang positif atau hanya diam dalam ketakutan dan menjadi seorang pengecut.
 
Takut dan berani merupakan dua “perseteruan’’ dalam diri manusia yang sangat kontras. Keduanya menyangkut potensi positif dan potensi negatif diri seseorang. Ada ketakutan karena ketidakberdayaan membawa diri, pemalu, pengecut, pecundang, perisau, atau perusak. Semuanya akan kalah jika dalam diri masih memiliki potensi positif untuk melawan ketakutan dengan keberanian. Keberanian adalah ketakutan yang terukur, sedangkan ketakutan adalah keberanian yang tidak terukur.
 
Adalah hal yang manusiawi jika masing-masing kita pernah  mengalami rasa takut untuk melakukan sesuatu yang positif. Ada kalanya rasa takut itu mendatangkan nilai positif. Namun tidak jarang rasa takut itu berdampak negatif. Ada orang yang ingin belajar naik sepeda misalnya, tapi ia selalu merasa takut, takut terjatuh, takut terluka, dan lain sebagainya.
Read more...
 
  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  Next 
  •  End 
  • »


Page 1 of 4

PENGUNJUNG ONLINE

We have 16 guests online

Pesan & Kesan


Get Shoutmix


Kalender


LOGIN ANGGOTA

Anggota login di sini untuk mengakses dua menu: ASPIRASI > "Karya Ilmiah", dan ASPIRASI > "Kirim Artikel"

Seas Games IV

Radio PPI Dunia

Selamat Mendengarkan